Tinjauan Selintas ‘Eksistensi Komunitas di Citra Indah’.
Teguh SW, Ketua KUACI (Komunikasi Umat antar Agama Cinta Indonesia) dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva

Tinjauan Selintas ‘Eksistensi Komunitas di Citra Indah’.

Jonggol (RJ) – Kawasan Citra Indah sungguh adalah kawasan unik. Diantara keunikan perumahan yang luasnya 1000 ha dan terdiri dari 2 kecamatan (Cileungsi dan Jonggol), 4 desa (Sukamaju, Singajaya, Singasari dan Cipeucang), 7 RW dan sekitar 40an RT ini adalah terbentuk dan munculnya berbagai komunitas/forum/paguyuban.

Diantaranya adalah:

  • FMC (Forum Masjid Citra Indah) mengkoordinir 31 masjid/musholla dulu bernama forum dkm.
  • Paguyuban RT/RW Sukamaju
  • Paguyuban RT/RW Citra Indah
  • Majlis Dzikir Al Isyroq
  • Komci (komunitas mobil ci)
  • Forum peduli pendidikan
  • Forum peduli lingkungan
  • Berbagai Majlis Ta’lim
  • Kelompok pengajian
  • Komunitas pelapak online
  • Ranting Istimewa NU
  • Muslimat/Fatayat NU
  • Ranting Muhammadiyah
  • KUACI (Komunikasi Umat antar Agama Cinta Indonesia) dulu Komunikasi Umat berAgama Citra Indah)
  • MPC
  • Komunitas musik inpenden
  • Atau mungkin masih banyak lagi yang tidak saya ketahui.

Hikmah dari banyaknya komunitas/forum ataupun paguyuban tersebut adalah menjalin persahabatan dan mempererat tali persaudaraan sesama warga lintas klaster. Betapa tidak, dari kluster Bukit Cempaka bisa akrab dengan warga kluster baru di Bukit Lantana, Bukit Matoa, Bukit Tectona dll.

Hikmah yang lain adalah status sosial, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan dan jabatan, suku agama bisa melebur menyatu membaur dalam silaturahmi antar warga yang berjalan seiring dalam kebersamaan dan keberagaman.

Jika Desa Sukamaju sebagai embrio awal pembangunan proyek perumahan Citra indah yg mulai dibangun tahun 1996, jumlah warganya sudah melebihi jumlah warga yang ada diluar Citra Indah.

Setidaknya di Citra Indah yg masuk dalam wilayah Desa Sukamaju ada 3 RW dan sekitar 20an RT, dimana ada dalam satu RT yang warganya hampir 400 KK. Kondisi ini adalah potensi yang besar untuk menjadikan Citra Indah sebagai contoh persaudaraan bagi keberagaman dan kebhinekaan. Semua itu berpulang pada niat dan tujuan masing-masing warganya.

Setelah posting tulisan yang kedua, saya mendapatkan respon di japri. Ternyata ada beberapa komunitas yang tidak saya sebut, diantaranya ada CITASETA dan GOLEC. Saya terpaksa harus mohon maaf, karena memang masih asing ditelinga dan mata saya.

Keberdaan dan aktivitas komunitas adalah bukti eksistensinya. Jika memang basecamp dan event atau acara tak banyak diadakan, baik internal maupun publish, baik yang bersifat individual direct face to face ataupun yang diluar ruang, maka sudah bisa dipastikan komunitas tersebut tidak akan terlalu diketahui warga.

Personalitas Pengurus dan Anggota Komunitas
Tak bisa dipungkiri lagi warga Citra Indah terdiri dari berbagai profesi yang beragam. Dari kalangan militer saja, ada yang perwira tinggi aktif maupun yang sudah purna. Ada pelaku bisnis profesional sampai marketing excutif, direksi perusahaan swasta maupun BUMN, Profesor Doctor, Akademisi yg tingkat rektorat, dosen hingga mahasiswa.

Ada Kyai Intelektual atau Cendekiawan ada juga Ustadz Kultural dari alumni pesantren. Bahkan Ada Kontraktor Sipil, Teknik konstruksi sampai buruh kasar. Ada Dokter Ahli dan paramedis. ada Paranormal hingga Praktisi Ruqyah. Ada Jurnalis dan reporter mass media. Bahkan mungkin ada aktifis sosial dan aktifis lainnya. Atau apapun yang tidak bisa saya sebutkan semuanya yg terpanggil aktif dalam komunitas.

Dari sekian banyak profesi yang ada di Citra Indah, mungkin hanya politisi yang tidak tampak aktifitasnya. Mungkin ada kekhawatiran dan dianggap sensitif atau karena hati-hati dan saling menjaga hubungan silaturahmi sesama warga, maka eksistensi politisi tidak tampil mencolok.

Padahal jika ada yg eksis dan ada figur yg bisa diterima oleh semua warga Citra indah, bisa memunculkan calon legislatif atau calon kepala desa. Karena jumlah atau share antara warga komplek Citra Indah lebih banyak daripada yang diluar Citra. Khususnya wilayah desa Sukamaju yang bisa dibuktikan dengan jumlah DPT dalam Pemilu tahun ini.

Seberapapun banyaknya jumlah anggota tiap komunitas, terkadang tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah menyentuh, menggugah dan memberikan manfaat bagi warga serta yang tidak kalah pentingnya adalah memperkokoh silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

Jika semua komunitas yg ada bertekad untuk bersatu sesuai bidang masing-masing. Maka hidup di Citra Indah terasa makin indah.

Karena itu, menarik sekali menikmati hari Sabtu dan Minggu di alam Citra indah (tanpa City), karena konsep kawasan yang disebut dgn “City”, agaknya kurang memenuhi persyaratan. Tapi untuk berolah jasmani menuju mensana ini corporisano ini lebih tepat. Betapa tidak, segarnya udara pagi, tidak dingin dan tidak juga terlalu panas.

Ditambah dengan tegaknya jajaran pohon rindang sepanjang lapangan sepakbola menambah keasrian kawasan yg disebut oleh pengembang sebuah Nuansa Alam di timur Cibubur (meski hampir dekat Cianjur).

Membahas kembali tentang komunitas yang ada di Citra Indah. Mungkin akan banyak lagi segmentasi. Ada pecinta senam dengan berbagai macam bentuk dan versinya. Ada komunitas beladiri, komunitas hoby, komunitas seniman. Tapi mungkin hanya beberapa saja yang menampakkan eksistensi untuk berekspresi secara eksternal untuk supaya banyak dikenal.

Jika ada klaster yang susah sekali mencari figur pengurus RT dan RW. Tapi sebagian klaster ada yang menarik untuk menjadi pengurus RT dan RW. Bahkan saat pelaksanaan pemilihan ketua RT atau ketua RW mirip dengan pilkada. Memasang spanduk dengan nomor urut peserta dan kandidat. Tentunya ada sedikit bumbu kasak kusuk bisikan ala politisi. Tapi masih dalam kerangka keakraban dan persaudaraan sesama warga.

Komunitas Jam Kecil
Layak sebuah perumahan, mayoritas penghuninya adalah rumah tangga baru atau keluarga kecil yang anggotanya masih suami isteri dan anak pertama. Begitulah kebanyakan warga penghuni perumahan Citra Indah. Bahkan tidak sedikit anggota keluarga ditambah pula dengan orang tua atau mertua.

Tentunya dengan berbagai alasan. Mungkin karena sedang belajar membangun rumah tangga dan butuh bimbingan orang tua sekaligus mengawasi cucu. Bisa jadi sang anak ingin membuktikan keberhasilan dan sengaja mengajak orangtuanya ikut merasakan keberhasilannya.

Rutinitas penghuni perumahan tak banyak berbeda. Apalagi yg lokasinya “nun jauh” dari Jakarta seperti Citra indah. Aktifitasnya dimulai dari berangkat pagi-pagi buta dan pulangpun sudah larut malam.

Disela-sela waktu tersisa saat pulang bekerja inilah warga Citra indah melepaskan kepenatan dengan bercengkrama ditempat makan atau ngopi favorit yang masih buka hingga dini hari.

Ternyata komunitas ini mewarnai suasana malam di perumahan Citra indah dan mengidentifikasi sebagai “komunitas jam kecil”. Anggotanya bisa saja berbagai tingkat sosial. Dari perwira menengah, profesional, intelektual hingga usia muda belia yang masih sekolah menengah. Masing-masing komunitas itu nampak terlihat asyik dan unik menghabiskan malam bersantai di tempat favorit yang mereka. Istilahkan ‘posko” dengan caranya sendiri.

Namun diantara komunitas yang ada di Citra Indah, komunitas inilah yg terkadang berpotensi menimbulkan keresahan. Meski jarang dan sangat kecil jumlahnya, tapi ini layak mendapat perhatian. Karena diantara keresahan yang ditimbulkan itu bisa saja menjadi kelaziman atau kewajaran.

Misalnya adanya miras, ngebut atau yg menjurus kearah maksiat. Beberapa waktu yang lalu sempat “dihalau” oleh kegiatan yang menamakan ‘GAMPAR” (Giat Anti Maksiat dan Pengaruh Narkoba). Ada 3 sasaran saat razia “GAMPAR” yaitu: yang Mojok, Mabok dan pengebut. Anggota “GAMPAR” saat beraksi bisa lebih dari 100 motor yg terdiri dari aktifis dan jamaah masjid Citra indah yg tergabung dalam FMC

Seiring berjalannya waktu, para penikmat jam kecil ini ternyata menginspirasi insting bisnis para warga untuk membuka usaha sesuai segmentasi

Jika dihitung jumlah penghuni perumahan Citra indah dengan warga asli yang ada di desa masing-masing desa yaitu Sukamaju dan Singajaya, maka penghuni penghuni Citra indah lebih besar jumlahnya.

Tapi khusus untuk desa Singajaya catatan data yang ada di kantor desa malah sebaliknya dari realitasnya. Ini artinya; masih banyak penghuni Citra indah yang belum menjadi warga. Mengutip apa pernah disampaikan oleh Camat Jonggol waktu itu bpk Beben Suhendar, yang disebut “warga Jonggol” adalah yang tinggal dan ber”KTP” Jonggol.

Rupanya permasalahan antara warga asli (lahir, tinggal dan BER-KTP) Jonggol dan penghuni perumahan ada perbedaan….

Teguh SW, Ketua KUACI (Komunikasi Umat antar Agama Cinta Indonesia) dulu Komunikasi Umat beragama Citra Indah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: