Sadar Geopolitik Mengembalikan Kebanggaan Warga Jonggol
Hendrajit

Sadar Geopolitik Mengembalikan Kebanggaan Warga Jonggol

Jonggol – Mendorong warga masyarakat berproduksi pada akhirnya harus lahir dari motivasi budaya. Bukan ekonomi aja. Di kawasan jonggol tempat saya tinggal, mayoritas masih warga setempat yang berbasis pertanian. Mereka ini punya tanah yang luas, buat tempat tinggal sekaligus lahan pertanian.

Tapi warga setempat sekarang ini, yang perempuan lebih senang jadi pembantu rumah tangga di komplek rumah saya, dengan kerja rangkap pada dua atw tiga rumah, demi Rp 100 atw Rp 200 ribu per minggu. Atau ngewarung jualan ala kadarnya, tanpa proyek bisnis jelas dan terencana menghadapi arus deras indomart, alfamart dan sebagainya.

Yang laki laki, mending ngojek seharian penuh demi keuntungan bersih rp 30 ribu per hari. Ketimbang ngolah sawahnya.

Padahal saya dan warga komplek perumahan kalau pas ngobrol soal ini, kerap kaget sendiri, sebab kalau melihat harta kekayaannya, sebenarnya lebih kaya. Kita di komplek bisa punya rumah susah payah nyicil kredit 10 15 tahun. Sementara warga setempat pada dasarnya ongkang kaki sudah jadi tuan tanah pemilik hektaran tanah.

Meski pada awal 90an beberapa pengembang mengincar tanah di kawaasan jonggol, sehingga tanah di komplek perumahan saya waktu sempat dilepas warga ke pengembang seharga 60 ribu per meter, dan sekarang paling murah 500 ribu per meter. Tetap saja yang mengganggu saya adalah, ada apa dengan kondisi mental warga setempat sehingga begitu entengnya melepas tanah pertanian?

Kondisi mental warga setempat yang begitu mudah melego kepemilikan tanahnya, pada akhirnya bukan saja jadi masalah ekonomi. Juga jadi masalah budaya. Sebab pertanian bukan saja soal memproduksi beras atau palawija seperti sayur mayur, buah buahan dan bunga.

Tapi dengan pupusnya sektor pertanian, dan hilangnya hasrat bertani warga, maka putuslah keterhububgan warga dengan tradisi leluhur. Sebab di balik proses bertani hingga panen raya, sampai ke proses distribusi, bukan saja teknis bertani. Ada proses budaya dan spiritual. Ada karakteristik khas komunitas yang terbangun berbasis masysrakat pertanian.

Dalam menyelami kondisi mental warga setempat sejak 1998 sampai sekarang, saya menangkap gejala dis orientasi massal. Dalam bidang Islam misalnya, tradisi tawasulan memang masih tetap terjaga. Namun tradisi olah spiritual inipun jadi rutin dan mekanis. Kehilangan daya spiritualnya.

Di ekonomi, seiring matinya hasrat bertani, mati pula hasrat berproduksi. Apalagi mencari hal hal baru yang jadi dasar pengembangan lahan bisnis baru. Jadi kalaupun ke bisnis, bukan terdorong jadi produsen. Tapi cuma distributor atau broker.

Kenapa? Lagi-lagi musababnya budaya. Hilangnya sektor pertanian yang bersenyawa dengan tradisi masyarakatnya , masyarakat jadi cuek atau nggak peka dengan lingkungan sekitarnya. Cuek dengan kebutuhan masyarakatnya.

Alhasil ketika warga setempat beralih dari pertanian ke bisnis, mereka mengembangkan bisnis yang tidak memancarkan ciri khas masyarakat setempat.

Alhasil di jonggol nggak ada kuliner unggulan yang khas daerahnya macam nasi uduk kebon kacang, nasi goreng kambing kebon sirih atau bubur ayam mang engkus gatsu bandung.

Karena nggak ada keseriusan dan kreativitas. Sehingga yang sukses malah kuliner warga pendatang. Kayak seafood pak turmudi asal tegal, atau sate kambing cak holil madura.

Jangan-jangan jonggol hanya potret kecil dari gambaran besar masyarakat kita saat ini. Terputus persenyawaannya dengan tanah asal. Sehingga tidak lagi kenal diri, tidak tahu diri, dan tidak tahu harga diri.

Solusinya? Sadar geopolitik. Menyadari kembali keunggulan jonggol baik geo ekonominya maupun geo spiritualnya.

Hendrajit adalah Pengkaji Geopolitik dan Wartawan Senior

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: