Pesepeda PSM CitraIndah City Jajal Lintasan Bogor-Bandung Via Puncak
Jumadi pesepeda dari Persatuan Sedap Malam (PSM) CitraIndah City sesaat tiba di Bandung usai mengikuti even zero to zero Bogor - Bandung

Pesepeda PSM CitraIndah City Jajal Lintasan Bogor-Bandung Via Puncak

Bandung (RJ) – Sekitar 1.500 pesepeda dari Komunitas Sepeda Jakarta , Bogor, Tangerang dan Bandung, diantaranya pesepeda dari Team Persatuan Sedap Malam (PSM) CitraIndah City, Golec dan Jonggol Cycling Community menjajal lintasan panjang dari Bogor-Bandung pada Sabtu (20/1/2018) lalu.

Jumadi, pesepeda dari Team PSM Citraindah City (kiri) saat istirahat di Posko MTB dalam even zero to zero dari Bogor ke Bandung

Perjalanan kelompok bersepeda ini dimulai pukul 06.30 WIB dari Km 0 Bogor menuju Km 0 Bandung , tepatnya di Kantor Walikota Bogor menuju Kantor Walikota Bandung melewati jalur Puncak Bogor, Cianjur, Padalarang, Cimahi dan Bandung .

Kegiatan bertajuk zero to zero merupakan even tahunan dengan menempuh jarak kurang 130 km. Even zero to zero kali ini digagas oleh Komunitas Polisi bersepeda Polresta Bogor.

Jumadi dari komunitas pesepeda PSM Citra Indah City mengaku senang dan puas mengikuti even zero to zero ini. Kegiatan zero to zero ini bisa menyalurkan kegemaran dan hobbynya bersepeda.

“Kita semua rata-rata puas mengikuti kegiatan zero to zero ke Bandung, kalau ada lagi kita mau ikut,” kata Jumadi.

Namun, Jumadi mengkritik panitia terkait kurangnya informasi mengenai penunjuk arah, sehingga banyak pesepada yang nyasar.

“Acaranya sih sukses, cuman petunjuk arahnya di Bandung kota minim, jadi banyak yang nyasar,” katanya.

Pesepeda even zero to zero Bogor – Bandung yang diikuti sekitar 1500 komunitas pesepeda Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bandung

Menggowes, bagi Jumadi, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tak hanya ke Bandung saja, Jumadi juga pernah menggowes hingga ke Jawa Tengah.

Bahkan dalam bekerja sehari-sehari ia menggowes puluhan km rumahnya dari CitraIndah City, Jonggo, Bogor menuju Kota Wisata, Bekasi.

“Menggowes sudah jadi hidup saya, seperti kita makan saja. Dan kalau orang kerja naik mobil atau motor, saya naik sepeda setiap hari. Setiap Sabtu Minggu saya sempatkan menggowes di sekitar Jonggol,” katanya.

Acara zero to zero ini, juga diikuti pesepada degan satu Yudi Irwanto (37) dari Team39 Bike Community Tangerang itu terekam dalam video yang diunggah ke Facebook dan menuai banyak simpati.

Yudi bercerita sebenarnya ia baru setahun terakhir menekuni hobi bersepeda. Pria yang sehari-hari berwiraswasta itu mengalami kecelakaan sepeda motor yang pada 2002 dan mengakibatkan kaki kirinya cedera berat.

Tulang lutut kiri terbelah dua dan menusuk keluar sehingga sampai sekarang harus dipasangi pen dan lutut tidak bisa diluruskan lagi. Hampir setahun setengah saya tidak bisa jalan, hanya berbaring saja,” tuturnya.

Kondisi itu rupanya tak membuat Yudi menyerah. Keinginan untuk hidup sehat dan terus bersosialisasi lalu mendorongnya menekuni kegiatan bersepeda dalam setahun terakhir.

Bersama teman-temannya di komunitas ia lalu belajar untuk mengayuh dengan benar mengikuti irama dan kondisi tubuhnya saat ini.

Untuk itu ia mengenakan cleat pada pedal kanan sehingga kaki kanannya menapak dan dapat memutar pedal.

Bagian kiri menggunakan pedal kecil sehingga tidak mengganggu pergerakan kaki kirinya yang terjuntai lurus.

Sebelumnya ia pernah mencoba bersepeda ke Puncak, namun terhenti di tengah jalan. Ia lalu berlatih lagi dan pada event zero to zero ia akhirnya berhasil mencapai Puncak, bahkan sampai ke Bandung.

Bagi sejumlah pesepeda dengan kondisi tubuh normal jalur itu tergolong berat karena melewati tanjakan curam di beberapa seperti di Ciawi dan depan Hotel Pardede.

“Sempat terasa mau kram kaki kanan, kalau sudah begitu saya kurangi ritme kayuhan dan istirahat. Setelah Cipanas sempat dibantu dorong sama om Yudi Al Basri dan ditunggui waktu mengistirahatkan kaki,” tuturnya.

Kepada mereka yang karena keadaan terpaksa mengayuh sepeda dengan satu kaki Yudi berpesan untuk bersepeda dengan mengikuti ritme tubuhnya sendiri. Tidak terlalu memaksakan diri, namun juga tidak mudah menyerah.

“Kondisi kontur jalan itu bisa dirasakan dari kayuhan, tinggal kita sesuaikan saja kayuhannya, tidak terlalu ngicik tapi juga terlalu berat. Ikuti saja ritme kita dan berhenti kalau tubuh sudah meminta stop,” tuturnya.

Aksi Yudi mengayuh sepeda ke Puncak diunggah oleh Yudi Al Basri yang sempat membantunya di Puncak. [A1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: