Perempuan Pertama yang Memimpin Kabupaten Bogor
Bupati Bogor Nurhayanti

Perempuan Pertama yang Memimpin Kabupaten Bogor

Bogor (RJ) – Nurhayanti adalah perempuan pertama yang menjadi Bupati Bogor. Ia menggantikan Rahmat Yasin yang kesandung kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Politisi PPP ini kemudian ditetapkan sebagai Bupati Bogordefinitif, setelah sebelumnya menjadi pelaksana tugas (Plt) Bupati Bogor.

Nurhayanti adalah sosok birokrat tulenmeniti karir dari bawah, sebelum terjun kedua politik. Hal ini membuat Nurhayanti memiliki banyak teman. Di mata para koleganya, perempuan pertama yang menjadi Bupati Bogor tersebut dikenal pendiam. Dia lebih sibuk dengan buku-bukunya. Sementara sejumlah mantan pimpinannya, Yanti-begitu dia disapa, merupakan seorang yang loyal dan tenang saat mengambil keputusan.

Nurhayanti lahir di Bogor 26 Oktober 60 tahun lalu. Banyak temannya menyebut, Yanti kecil mempunyai pribadi yang unik dibandingan anak-anak yang hidup di zamannya. Jika kebanyakan sibuk dengan bermain dan ngerumpi sebagaimana anak wanita pada umumnya. Wanita lulusan Magister Sains di Universitas Satyagama justru banyak berkutat dengan buku dan pelajaran.

“Kebetulan saya satu sekolah dengan bu Yanti saat di bangku SMP, dia orangnya pendiam namun tetap bergaul dengan teman-teman. Dia memang banyak menghabiskan waktunya untuk belajar,” ujar Elli Adnan, rekan kelas Nurhayanti waktu di SMP 2 Kota Bogor kepada Radar Bogor

Ya, Nurhayanti menamatkan sekolah dasar (SD) pada tahun 1967 di SD Negeri 6 Bogor. Setelah lulus, Yanti lanjut di SMP Negeri 2 Bogor. Elli menuturkan, selain rekan sekolah, Nurhayanti juga merupakan teman sepermainannya.

Saat itu, Yanti kecil, masih tinggal di Gunung Batu berhadap-hadapan dengan rumah orang tua Elli. Bagi dia, Yanti adalah seorang profesional sejati yang merintis pekerjaannya dari bawah. Memang tak terbayang bagi dia dan teman-temannya, bahwa Nurhayanti bakal menjadi bupati “Sebenarnya kami sudah seperti keluarga. Memang gak kebayang, tapi rezeki orang Tuhan yang atur,” jelas Elli.

Menurut dia hal yang paling menarik dari Nurhayanti adalah pribadinya. Sejak lulus SMP tahun 1970 hingga sekarang, selain fisik, tak ada yang berbeda dari seorang Nurhayanti. Baik itu sikap, tutur dan cara berpikirnya. Makanan kesukaannya pun masih tetap sama yaitu cungkring (sejenis sate dari kulit). “Ya, makanannya masih tetap sama, suka yang tradisional. Walaupun sekarang sudah menjadi pejabat , bu Yanti tetaplah Nurhayanti dulu, mau mendengar, tak pernah menyangga, meski tidak sepaham. Itu yang menarik darinya,” bebernya.

Sementara itu, rekan Nurhayanti semasa aktif di organisasi kepemudaan Zaenal Syarifudin mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut dia, selain memiliki pribadi yang unik, Nurhayanti juga merupakan sosok pimpinan yang tegas. Bisa memisahkan kepentingan keluarga dan kedinasan. “Jiwa sosialnya tinggi. Begitu pula dengan atensinya terhadap masyarakat,” ujar Zenal yang juga menjabat Ketua Badan Promosi Pariwisata Bogor.

Menurut dia, Nurhayanti itu sudah seperti Margaret Thatcher (Perdana menteri perempuan pertama di Inggris) versi Bogor. Hal itu kata Zaenal bukan tanpa alasan. Itu jika melihat track record Nurhayanti selama di pemerintahan. “Pada saat kepemimpinan RY itu, dapurnya adalah bu Yanti. Modal kepemimpinan dan managerialnya sangat handal,”jelasnya.

Selain memiliki pribadi yang hangat dan unik, Nurhayanti juga dikenal sebagai birokrat tulen dan pekerja yang loyal. “Apa yang Nurhayanti dapat sekarang, adalah buah kerja kerasnya. Dia merupakan satu dari sekian banyak kepala daerah yang merintis karir dari bawah,” ujar mantan bos Nurhayanti yang juga mantan Wakil Bupati Bogor Lesmana Suriatmadja kemarin.

Awal karir Nurhayanti dimulai tahun 1984. Saat itu dia dipromosi menjadi Pjs Kasubbag. Perudang-undangan Setda Kabupaten Bogor. Kemudian pada 1990 Nurhayanti pindah posisi menjadi Kasubbag Perundang-undangan dan Penelaahan Hukum pada setwilda Tk.II Bogor.

Sampai tahun 2002 karir Nurhayanti melejit, menjadi Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor. Tiga tahun kemudian Nurhayanti dipindahakan menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah. Di tahun 2007 dia dipindahkan menjadi Kepala Badan Pengawasan Daerah. Belum lama menjabat, karirnya pun naik menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor pada tahun 2009. Dibayang-bayangi masa pensiun yang sudah mau usai, Nurhayanti justru dipinang Rachmat Yasin menjadi wakilnya pada 2013.

Lesmana mengaku, track record Nurhyanti di pemerintahan sudah tak bisa diragukan. Sebagai mantan bos, Lasamana kenal betul dengan cara kerja Nurhayanti. Satu hal yang tak bisa dilupakan dan menjadi kesan yang mendalam baginya bahwa, Nurhayanti merupakan staf yang berani berbeda pendapat dengan pimpinan. “Dia berani berbeda. Tidak asal bapak senang (ABS). Satu hal lagi, dia sangat loyal,” beber mantan walikota Cirebon tersebut.

Akan ada banyak tantangan bagi Nurhayanti dalam memimpin Kabupaten Bogor tiga tahun kedepan, diantaranya pengisian wakil bupati. Karenanya, Lasman menyarankan, dalam memilih F2 (sebutan untuk wakil kepala daerah), aspek kapabilitas dan aksebilitas harus diutamakan. “Tunjukan kepada publik, anda sebagai Nurhayanti yang mempunyai integritas pribadi dan jangan sampai mempunyai hutang budi karena hal itu biasanya sering ditagih,” ungkapnya.

Terpisah, Ketua MUI Kabupaten Bogor Mukri Aji punya penilaian sendiri. Dia menegaskan, sosok Nurhayanti telah lulus menjadi pemimpin di Kabupaten Bogor. Hal itu teruji di masa transisi Nurhayanti menjadi Plt Bupati Bogor. Saat itu, beberapa kasus keumatan seperi Ahmadiyah, keberpihakan pondok pesantren (Ponpes) dan kasus Syiah dapat diselesaikannya.

“Kepemimpinan bu Yanti telah teruji, karena mampu menangani semua masalah itu. Dia mampu mensinergitas muspida, masyarakat dan tokoh agama,” jelasnya. Dalam kacamatanya, Nurhayanti sama sekali tidak menonjolkan dirinya sebagai sosok eksekutif. Tipelogi yang dibawanya adalah solusi kebersamaan. “Itulah semangat kebersamaan yang saya lijat,” tukasnya.

Menurut Mukri Aji, menjadi pemimpin itu tidak melihat, laki-laki atau perempuan. Karena Tuhan telah menciptakan hambanya dengan potensi yang sama. “Makanya yang penting saat ini, adalah bergandeng tangan, baik itu antara eksekutif, legislatif dan yudikatif,” tegasnya. [A4]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: