Penutupan Jalur Puncak Berdampak ke Pariwisata
Longsor terjadi di empat titik longsor, yakni Masjid Atta'awun, Grand Hill, Riung Gunung dan Widuri di Puncak Pass

Penutupan Jalur Puncak Berdampak ke Pariwisata

Bogor (RJ) – Penutupan jalur Puncak dari perempatan Taman Safari Indonesia (TSI) sampai Ciloto, Cianjur, sejak Selasa (6/2/2018) ikut memberikan dampak terhadap industri pariwisata setempat. Penutupan akibat longsor yang terjadi di sekitar jalur tersebut.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor, Budi Sulistio, mencatat, telah ada pembatalan penginapan terhadap sejumlah villa, termasuk Jaya Raya di Cisarua, Bogor.

“Belum ada data pasti, tapi kami catat ada pembatalan,” kata Budi, Kamis (8/2/2018).

Budi melihat, pembatalan oleh wisatawan merupakan hal wajar dalam kondisi ini. Sebab, menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bencana longsor masih kemungkinan terjadi di sejumlah titik di Cisarua, sehingga menimbulkan kecemasan bagi para pelancong.

Tidak hanya pembatalan, Budi menambahkan, bencana longsor di jalur Puncak pada Senin (5/2) menyebabkan wisatawan yang sudah menginap di beberapa hotel dan villa memilih untuk kembali. Khawatir ada longsor susulan, ujarnya tanpa menyebutkan data lebih detail.

Meski tidak sebanyak tempat penginapan, restoran juga terdampak dengan penurunan pengunjung. Budi melihat, situasi seperti ini masih akan terus terjadi sampai pemerintah menyatakan bahwa jalur Puncak sudah aman dilalui masyarakat.

Budi berharap, pemerintah pusat maupun kabupaten bisa bergerak cepat terhadap perbaikan jalur di Puncak. Selain berdampak ke jumlah pengunjung, kondisi ini juga berdampak ke pendapatan. Pendapatan yang diberikan hotel dan restoran di Puncak sekitar Rp 250 miliar per tahun ke Pendapatan Anggaran Daerah (PAD), ucapnya.

Sejauh ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Rahmat Sujana, melihat, dampak yang diberikan terhadap penutupan jalur belum bisa dibilang signifikan. Taman Safari Indonesia, misalnya, masih beroperasi secara normal dan tetap kedatangan pengunjung.

Tapi, Rahmat memang tidak menampik, jika perbaikan jalur tidak segera selesai, dampak terhadap pariwisata di Puncak akan semakin signifikan. Termasuk di Gunung Mas yang jadi destinasi di Kabupaten Bogor, katanya.

Untuk saat ini, Rahmat mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengingat longsor merupakan bencana alam yang tidak bisa dihindari. Ia hanya bisa melakukan imbauan ke masyarakat dan pelaku pariwisata untuk mengutamakan keselamatan diri sembari menunggu proyek perbaikan jalan selesai. [A1]

Sumber: Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: