Pemerintah segera Luncurkan Tiga Model Mobil Pedesaan dengan Harga di Bawah Rp 70 juta
Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto tengah melihat-melihat mobil pedesaan

Pemerintah segera Luncurkan Tiga Model Mobil Pedesaan dengan Harga di Bawah Rp 70 juta

Jakarta (RJ) – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan akan meluncurkan secara resmi program kendaraan pedesaan yang akan resmi diperkenalkan pada Agustus 2018 ini dengan harga jual di bawah Rp 70 juta atau sekitar Rp 60 jutaan.

Ada tiga model mobil pedesaan yang akan dijual, yang dikembangkan oleh Wintor dari Astra Otopart, KHS dari CV Karya Hidup Sejahtera, dan yang terbaru Mahesa dari Kiat Motor.

Wintor, mobil pedesaan yang diproduksi Astra Otoparts

Direktur Jendral (Dirjen) Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Harjanto, mengatakan ada tiga model kendaraan pedesaan itu akan diluncurkan pada Agustus 2018 ini

“Ya ancer-ancer Agustus ini. Saya akselerasi Agustus ini bisa selesai, ini baru perkiraan. Tergantung yang produksinya, tapi mereka sudah katakan kalau siap untuk Agustus, karena kan produksi itu enggak gampang. Sekaligus regulasi kita akselerasi bicara dengan Perhubungan dan lainnya untuk bisa mengaturnya. Jadi Sisi regulasi Sisi produksi bisa barengan,” kata Harjanto beberapa waktu lalu.

Harjanto mengungkapkan, dari ketiga model tersebut KHS sudah diproduksi dan dipasarkan. Kemudian untuk Wintor juga sudah diproduksi namun sekarang sedang melakukan pengembangan. Sedangkan untuk Mahesa masih dalam tahap pengembangan.

Mobil pedesaan yang diproduksi CV Karya Hidup Sejahtera

Nantinya, ketiga model kendaraan pedesaan itu ditargetkan bisa diluncurkan secara resmi sekaligus.

“Nanti launching nanti tiga-tiganya sekaligus. Jadi dikumpulin dulu setelah mereka siap semua baru kita launching. Nah kita bukan bicara prototype di sini, kita bicarain production. Jadi bukan prototype lagi, jadi ini produksi yang siap dipasarkan,” ungkap Harjanto.

Bersamaan dengan itu, Harjanto mengatakan, Kemenperin juga sedang menyiapkan regulasi terhadap kendaraan pedesaan. Dalam mengatur kendaraan ini, Kemenperin bakal menggandeng pihak-pihak terkait seperti Kementerian Perhubungan.

Mahesa, diproduksi Kiat Motor

“Termasuk nanti distribusinya dengan teman-teman yang nanti terlibat kita akan bicarakan, tapi itu kan business to business, kita nggak akan intervensi, kita hanya memfasilitasi. Nah kita memfasilitasi untuk bertemu beberapa industri supaya jadi. Jadi tinggal peran pemerintah agar regulasi yang diperlukan itu supaya masuk ke pasar enggak ada masalah mulai dari laik jalan serta perpajakannya,” katanya.

Cara memilikinya
Pada kesempatan ini Direktur Jendral (Dirjen) Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Harjanto mengatakan, bagi konsumen yang ingin membeli ke produsennya setelah resmi diperkenalkan ke publik.

“(Kalau ingin membeli) Ya ada bisa didatangi langsung ke produsen. Jadi bisa kok kalau mau dibeli kan mereka nggak pakai nomor polisi jadi seperti model traktor jadi belum ada nomor polisinya masih menunggu regulasi. Kalau sekarang yang sudah bisa dibeli itu yang KHS ya,” katanya.

Harjanto bilang, ketiga model kendaraan yang dibanderol dengan harga di bawah Rp 70 juta itu bisa dimiliki oleh siapapun. Artinya, tidak terpatok untuk masyarakat pedesaan.

“Jadi kalau misalnya ada yang mau beli, mau pakai buat gaya-gayaan ya silakan saja kita enggak melarang, sepanjang itu ada nomor polisinya dan itu bayar pajak sebagainya,” kata Harjanto.

Menurutnya, harga jual kendaraan ini yang dijual di bawah Rp 70 juta, karena angka tersebut dinilai sudah cukup terjangkau untuk masyarakat pedesaan.

“Harga harus di bawah Rp 70 jutaan, jadi murah sekali. Tapi memang reliable untuk ditaruh di pedesaan,” kata Harjanto

Dengan kendaraan ini, Harjanto menjelaskan, selain sebagai alat transportasi, misalnya mobil pedesaan Mahesa diproduksi Kiat Motor memiliki beragam fungsi untuk membantu berbagai pekerjaan di sektor pertanian dan perkebunan.

“Jadi itu bisa dipakai untuk pompa, untuk mesin-mesin lain. Lalu dia punya power trainnya bisa di-connect, bisa untuk pembangkit listrik. Kalau misalnya di desa lampunya mati, nanti jadi generator. Jadi multifungsi, beda dengan mobil pada umumnya,” kata Harjanto.

Tak hanya itu, kata Harjanto, kendaraan pedesaan ini juga dinilai irit dalam hal bahan bakar. Mahesa sendiri memiliki tenaga 500 CC dengan 1 silinder dan menggunakan mesin diesel.

“Dia bisa untuk seperti genset segala macam, dia multifungsi. Lalu walaupun manual, memiliki fungsi seperti truk dump. Kalau mobil misalnya pick up Suzuki atau lainnya, mobilnya enggak bisa diangkat baknya, nah kalau ini baknya didesain bisa langsung buang kayak dump truck walaupun manual jadi memang benar-benar untuk mobil pedesaan dengan engine yang kecil,” jelasnya.

Dengan hadirnya kendaraan pedesaan ini, Harjanto berharap, agar masyarakat desa bisa lebih memanfaatkan alat mekanisasi di pedesaan sekaligus sebagai transportasi untuk keperluan logistik. Sehingga memudahkan dan membantu sektor pertanian serta perkebunan.

“Kalau lahan mereka sudah bisa mekanisasi dan mendapatkan accessibility yang baik insya Allah kehidupan petani di desa akan lebih baik, itu saja,” tutup Harjanto. [A1]

Sumber: Detikfinance

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: