Pahit Manisnya Perjuangan Petani Kopi Asal Lampung
Nestle Cantumkan Simbol Khas Daerah Lampung Pada Kemasan Kopi Nescafe di kebun percontohan tanaman kopi Nestle Indonesia di Kabupaten Tanggamus, Provunsi Lampung,

Pahit Manisnya Perjuangan Petani Kopi Asal Lampung

Lampung (RJ) – Menikmati sajian secangkir kopi mungkin sudah menjadi kebiasaan nenek moyang dari zaman dahulu. Kini, kopi menjadi sajian yang amat digemari oleh segala umur, bukan lagi sekedar minuman, tetapi kopi saat ini telah menjadi gaya hidup atau lifestyle masyarakat di kota-kota besar.

Terlebih Indonesia, dikenal dengan negara agraris, dimana hasil perkebunan dan pertanian menjadi penghidupan bagi ekonomi masyarakat.

Namun, siapa sangka dibalik kenikmatan secangkir kopi, ada perjuangan para petani kopi yang mampu menghasilkan biji-biji kopi berkualitas dan membuat seruputan kopi selalu nikmat dirasakan.

Salah satu produk kopi yang tak asing bagi masyarakat Indonesia, yakni Nescafe yang telah menggunakan biji kopi robusta asal Lampung.

Merek kopi dari PT Nestle Indonesia tersebut telah menjalankan kemitraan dengan ribuan petani kopi Lampung dalam menghasilkan kopi yang berkualitas, dan bermutu internasional.

Salah satu petani kopi mitra Nestle, Feri Elpison mengungkapkan, ada tantangan ataupun kendala yang dihadapi petani kopi saat ini, seperti kendala cuaca yang menyebabkan penurunan produktivitas tanaman kopi.

“Sebenarnya banyak kenadalanya, yang jelas kendala cuaca untuk produktivitas,” ujar Feri di Kebun Kopi

Percontohan PT Nestle Indonesia, di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Kamis (4/5/2017). Menurut Feri, selain kendala cuaca, semangat para petani kopi dalam menggeluti pekerjaan sebagai petani kopi jug perlu ditingkatkan.

“Kemudian semangat yang perlu ditumbuhkan kepada petani-petani, sehingga lebih fokus bertani kopi, tidak menajdi pekerjaan sampingan, dan memang petani adalah pilihan pada akhirnya,” kata Feri.

Feri pun bercerita, pada awalnya mimiliki pekerjaan sebagai petani kopi bukanlah pilihan bagi dirinya, karena dirinya melihat memiliki pekerjaan sebagai petani tidak menjanjikan hidup lebih baik. “Saya bertani kopi dari tahun 2007 dan bertani kopi bukan pilihan bagi saya, karena kami bertani begitu-begitu saja dan ilmunya juga dari nenek moyang kami,” ungkapnya.

Setelah lima tahun berjalan menggeluti pekerjaan sebagai petani, Feri pun berkeinginan agar pekerjaannya lebih berkembang dan maju, hingga pada 2012 dirinya memutuskan untuk menjalin kemitraan petani kopi binaan Nestle Indonesia.

“Pada 2012 kelompok tani bergabung dengan Nestle, dan 2012 kami memulai kerja sama dengan Nestle, disitu kami belajar budidaya kopi yang baik,” ujar Feri.

Feri mengatakan, dalam memperbaiki kualitas dan juga kuantitas tanaman kopi, para oetani diberikan fasulitas oembelajarang yabg dinamakan sekolah lapang, yang memberikan pemahaman kepada petani kopi bagaimana cara menanam kopi yang berkualitas.

Seiring waktu berjalan, Feri akhirnya merasakan manfaat dari program tersebut, salah satunya dengan meningkatnya produktivitas tanaman kopi miliknya dari yang sebelumnya hanya 500 hingga 700 kilogram per hektar, kini sudah mencapai 1,2 hingga 1,5 ton per hektar dalam satu musim tanam.

“Kalau sebelum bergabung hanya 5-7 kuintal (500-700 kilogram) per hektar setelah bergabung rata-rata 1,2 sampai 1,5 ton per hektar,” kata dia.

Dari sisi penjualan biji kopi, menurutnya pihak Nestle tidak mewajibkan para petani kopi untuk menjual hany kepada Nestle, petani dibebaskan untuk menjual kemana saja dengan memilih mana harga yang lebih menguntungkan bagi petani.

“Kami tidak ada keharusan menjual ke Nestle, yang jelas kami kalau jual ke Nestle, nanti kami akan benefit dari Nestle, jadi terlepas harga yang lebih baik mana diserahkan kepada petani, tidak ada pemaksaan, kalau memang harga bagus ke Nestle kenapa tidak jual ke Nestle saja,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dahulunya hasil biji kopi yang ia tanam hanya dijual kepada pasar lokal, atau pasar disekitaran wilayah Provinsi Lampung, namun kini biji kopi hasil produksinya bisa terserap pasar internasional yang membuat dirinya bangga menjadi petani kopi.

Namun dirinya tak menjelaskan lebih lanjut terkait berapa pendapatan yang ia dapatkan setelah produktivitas dan kualitas biji kopinya meningkat.

Akses Perbankan

Tak hanya kualitas dan produktivitas tanaman kopi yang meningkat, Feri mengatakan, kini para petani kopi juga telah memiliki nomor rekening perbankan.

Menurutnya hal itu sangat membantu petani yang notabene memiliki keterbatasan akses perbankan.

“Petani kopi yang bekerja sama dengan Nestle, semua sudah mempunyai rekening, yang mana rekening tersebut sangat mudah hanya melalui handphone, kemudian nomor handphone menjadi nomor rekening kita,” jelasnya.

Menurutnya dengan adanya akses kepada perbankan petani menjadi lebih mudah dalam melakukan transaski, seperti pembayaran listrik, beli pulsa, menabung.

“Sebelumnya enggak punya rekening karena sulit mesti ke kantor bank, antri, syarat-syaratnya kadang petani harus bawa uang Rp 200.000 untuk saldo minimal, kalau ini cuma Rp 10.000 jadi sangat mudah,” katanya.

Dengan itu, kini Feri memiliki lahan kopi seluas 5 hektar, dari yang sebelumnya hanya memiliki 1 hektar lahan tanaman kopi, dan itupun merupakan warisan daei orang tuanya.

“Dengan hasil tersebut, kami akan mewariskan anak-anak kami, dan kami bangga menjadi petani kopi, tadinya punya 1 hektar itu juga warisan dan sekarang 5 hektar,” kata Feri dengan raut wajah bahagianya.

Pencantuman Logo Siger Lampung

Kisah bahagia Feri tak berhenti disitu, kini Pemerintah Provinsi Lampung menjalin kerja sama dengan PT Nestle Indonesia dengan mencantumkan logo khas daerah Lampung yakni mahkota Siger pada kemasan kopi Nescafe Classic.

Hal itu dilakukan agar kopi Lampung jenis robusta semakin terkenal dan mendunia dengan ditampilkannya logo Siger Lampung pada kemasan produk kopi Nescafe Classic.

Dari data PT Nestle Indonesia, jumlah kemitraan Nestle lndonesia kini telah menjangkau sekitar 20.000 petani kopi, dan lebih dari 18.000 di antaranya telah memperoleh validasi 4C (Common Code for the Coffee Community), sebuah standar yang mencakup berbagai aspek dalam pertanian kopi berkelanjutan.

“Pencantuman logo di Nescafe ini menyatakan komitmen kedua belah pihak untuk menyediakan informasi kepada konsumen mengenai asal kopi yang mereka konsumsi,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Dessy Romas.

Menurut Dessy, pencantuman logo tersebut membanggakan kepada Lampung. Sekaligus menjadi sarana untuk mempromosikan kebudayaan dan kekayaan alam di Lampung.

Dan hingga kini kopi Nescafe Classic telah menembus negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, Rusia, dan Australia.

Kementerian Perdagangan mencatat realisasi ekspor produk kopi hingga September 2016 mencapai 650,2 juta dolar AS dan menempatkan Indonesia pada posisi keempat sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia. [A1]

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: