Kota Bogor Dikepung 34 Titik Bencana, Tiga Meninggal Dunia
Bencana di Kota Bogor dipiicu hujan intensitas sedang hingga lebat menyebabkan banjir dan tanah longsor

Kota Bogor Dikepung 34 Titik Bencana, Tiga Meninggal Dunia

Bogor (RJ) – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, Senin, telah mengakibatkan terjadi bencana alam pada 34 titik yang tersebar di sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan dari anggota BPBD Kota Bogor, peristiwa bencana alam yang terjadi di 33 titik tersebut didominasi oleh longsor dan banjir. Dalam peristiwa tersebut, tiga orang meninggal dunia di dua lokasi bencana berbeda.

“Satu korban meninggal dunia akibat longsor di kolam pemancingan Kelurahan Paledang, dan dua korban meninggal dunia karena banjir luapan kali di Kelurahan Sukaresmi,” kata petugas BPBD Kota Bogor Djaya Toha.

Djaya mengatakan, data yang masuk ke Piket Pusdalops PB-BPBD Kota Bogor, Senin, hingga pukul 20.30 WIB, dilaporkan terjadi 33 kejadian bencana di lokasi yang berbeda.

Peristiwa bencana alam banjir dan longsor yang melanda wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, Senin menyebabkan tiga warga meninggal dunia di dua lokasi bencana berbeda.

BPBD Kota Bogor menyebutkan, peristiwa bencana longsor terjadi di lokasi pemancingan yang terletak di Kampung Gardu, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah.

“Longsor terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, tebingan ambruk setinggi 30 meter menutup kolam pemancingan hingga mengenai satu orang warga yang sedang memancing,” kata Kepala Satlak BPBD Kota Bogor, Ganjar Gunawan.

Korban bernama Sarifudin berusia 69 tahun warga Kampung Keramat. Saat kejadian korban tengah memancing saat hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.

“Setelah dievakuasi korban dibawa ke RS Bhayangkara untuk dimandikan, selanjutnya dipulangkan ke rumah duka,” kata Ganjar.

Bencana berikutnya terjadi banjir di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal yang menewaskan dua orang terdiri atas ibu dan anak yang masih balita. Korban bernama Anita Fauziah Fitria usia 25 tahun dan putrinya Dziah Mahendra Dzikra berusia empat tahun.

Kedua korban tewas setelah terserat derasnya arus luapan kali yang merupakan anak aliran dari Sungai Cipakancilan, sejauh 500 meter dari tempat kejadian.

Kronologis terjadinya luapan air kali tersebut berawal dari jebolnya tembok pembatas lapangan di SMA Negeri 2 yang berada di pinggir sungai. Tembok tersebut menghantam rumah korban hingga rusak.

Terjangan air luapan kali tersebut merusak rumah korban, hingga korban terseret arus air yang cukup deras. Selain menghanyutkan sejumlah warga, luapa air kali juga menyeret sejumlah kendaraan roda dua yang terparkir di lapangan SMA Negeri 2 Budi Agung.

“Awalanya korban berhasil diselamatkan setelah terseret arus air dan dilarikan ke RS Islam, tetapi nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan,” kata Ganjar.

Ganjar menambahkan, BPBD Kota Bogor turun ke lokasi bencana dan telah menyalurkan bantuan tanggap darurat bencana. Hingga kini petugas BPBD masih berada di lokasi untuk mengantisipasi dan memberikan bantuan lainnya kepada para warga yang terdampak bencana.

“Kami mengerahkan seluruh kekuatan, disebar di beberapa titik lokasi bencana, begitu pun untuk bantuan tanggap darurat bencana sudah kami salurkan sambil terus memantau perkembangan di lapangan,” kata Ganjar.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menginstruksikan camat dan lurah setempat untuk mengecek kondisi aliran kali pascapabanjir dan memastikan arus air kembali normal dengan membersihkan kali. [A1]

Sumber: Antara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: