Ketua MPR Beri Sosialisasi 4 Pilar kepada Panji Gumilang dan Al-Zaytun
Pengasuh Pondok Pesantren Al Zaytun Panji Gumilang menerima cenderamata dari Ketua MPR RI Zulkifli Hasan

Ketua MPR Beri Sosialisasi 4 Pilar kepada Panji Gumilang dan Al-Zaytun

Indramayu (RJ) – Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengunjungi Ma’had Al-Zaytun atau Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pimpinan Panji Gumilang, Jumat (19/1/2018) lalu.

Kedatangannya untuk memberikan Kuliah Umum atau Sosialisasi Empat Pilar tentang Peranan MPR dalam kaitan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pada era UUD 1945 yang telah diamendemen.

Dihadapan Panji Gumilang, guru, wali santri dan ratusan ribu santri Al-Zaytun, Zulkifli menegaskan, Indonsia membutuhkan kembali Garis-garis Besar Haluan Negara, ditengah munculnya fenomena Demokrasi Pancasila menghasilkan kesenjangan dan ketidaksetaraan di masyarakat.

“Demokrasi Pancasila menghasilkan kesenjangan sehingga diperlukan Garis-garis Besar Haluan Negara, terkait bagaimana Indonesia kedepan,” kata Zulkifli.

Dia mengatakan saat ini GBHN tidak ada lagi dan hanya ada rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang yang akan dijalankan pemerintah bagi pembangunan nasional.

Menurut dia, MPR RI sudah setuju dibentuknya GBHN sebagai arah pembangunan nasional namun pembahasannya stagnan ketika membahas mengenai materi GBHN tersebut.

“Ketika masuk materi GBHN seperti apa, bertengkar lagi, ada yang ingin GBHN seperti zaman orde baru dan ada yang ingin seperti zaman Soekarno,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Zulkifli mengajak seluruh santri Al-Zaytun melihat kembali capaian apa saja yan sudah diraih Indonesia selama 20 tahun era reformasi.

Dia menilai ada beberapa hal yang belum tercapai seperti kedaulatan pangan karena Indonesia masih mengandalkan impor sehingga membuat pangan Indonesia bergantung kepada pihak asing.

“Pangan kita belum berdaulat, impor garam 2,5 juta ton, lalu impor gula, impor bawang, dan impor beras,” katanya.

Zulkifli juga menyampaikan pesan agar para santri mempersiapkan diri dengan baik yaitu membekali diri dengan ilmu yang cukup dalam menghadapi era keterbukaan yang memiliki persaingan ketat.

Menurut dia, di era persaingan bebas dan terbuka, syarat yang utama adalah memiliki ilmu dan bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri.

Dia mengatakan, dengan ilmu yang cukup maka bisa memprediksi apa yang akan terjadi lima hingga 10 tahun kedepan sehingga bisa mengambil peluang ketika di pihak lain belum bisa memprediksinya.

Sementara itu, Pimpinan Ma’had Al-Zaytun Panji Gumilang mengatakan, Al-Zaytun sudah menjalankan kemandirian dalam hal pangan, dengan menanam ribuan hektar padi dan membina para petani sekitar Indramayu.

Seluruh santri dan keluarga guru mendapatkan beras subsidi Rp 7.000 per/kg, serta dijual ke Cirebon dan Jakarta dengan harga Rp 13.000 per/kg. Jadi Al-Zaytun sudah menerapkan berdikari sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa.

“Kita (Al -Zaytun) sudah berdikari berdiri diatas kaki sendiri, alhamduillah kita bisa panen raya. Kebutuhan makan kita semua ada di sini. Kita malahan surplus terus, sementara kita dengar di luar sana beras mahal dan harus impor,” kata Panji.

Panji menyatakan terima kasihnya kepada Zulkifli Hasan karena telah memberikan kuliah umum tentang GBHN. Sebab, Al-Zaytun memerlukan bimbingan terhadap haluan negara sebagai bentuk kecintaannya terhadap NKRI dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Ponpes Al -Zaytun selama ini dikaitkan dengan stigma pendirian Negara Islam Indonesia (NII) KW 9dan Islam garis keras. Namun, ketika Ketua MPR RI Zulkifli Hasan berkunjung ke Al-Zaytun ada pemandangan yang berbeda.

Ketua MPR diajak terlebih dahulu berkeliling komplek Al Zaytun sebelum menuju ke Mesjid Rahmatan Lil ‘alamin Al-Zaytun, tempat berlangsungnya kuliah umum tentang GBHN.

Zulkifli disambut ribuan santri di kanan-kiri, yang membela tengah bangun masjid mega lima lantai itu. Disetiap tingkat banguna masjid tersebut terpampang bendera Merah Putih melingkari bangunan, bahkan backdrop (latar belakang) kuliah umum itu, berlatar Merah Putih pada bagian atas dan terlihat Bendera Merah Putih.

Sebelum dimulainya acara, pembawa acara meminta seluruh yang hadir untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Seorang guru terlihat memimpin sebagai diregen Lagu Indonesia Raya. Seluruh yang hadir, termasuk Ketua MPR Zulkifli Hasan, Panji Gumilang dan ribuan santri Al-Zaytun menyanyikan Lagu Indonesia Raya.

Namun, Lagu Indonesia Raya yang dinyayikan bukan hanya Bait/Stanza/Liirik I saja pada umumnya, tetapi menyayikan Lagu Indonesia Raya dengan Stanza III. Nyayian Lagu Indoensia Raya tersebut terasa menggema. Al Zaytun berpandangan Lagu Indonesia Raya Stanza III mengandung filosofi.

Filososfinya, Indonesia adalah Negara yang berbasis maritim (laut) harus menjadikan maritim sebagai pertahanan utama dalam menjaga Indonesia sebagai tanah air, Indonesia Tanah Mulia dan Pusaka, serta Indonesia Tanah Yang Suci.  [A1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: