Jonggol Green City
Harry Hardiyana, Ketua Jonggol Cendekia

Jonggol Green City

Jonggol (RJ) – Kemarin di whatsapp grup Jonggol Cendekia sempat membahas reportase dalam tirto.id dengan judul “Depok, Desa yang Gagal Menjadi Kota”.

Dalam benak kawan-kawan di grup tentu terlontar rasa khawatir “Jonggol juga tidak boleh seperti itu”, desa yang dipaksa menjadi kota.

Ini tentu ke khawatiran yang beralasan dan sayapun merasakan khawatir yang sama. Melihat Depok bagi saya menjadi teringat tentang fonomena middle income trap (Jebakan kelas menengah/Negara berkembang).

Middle income trap adalah fenomena negara berkembang yang pendapatan per-kapitanya cenderung stagnan disinyalir tidak akan mampu meningkat untuk menjadi negara berpenghasilan per-kapita tinggi diatas USD 9.000.

Pada tahun 2014 lalu saya pernah menulis artikel yang mengiris masalah middle income trap ini. Artikel yang saya tulis berkaitan tentang peran mahasiswa dan menyongsong bonus demografi pada tahun 2030.

Dimana pada tahun emas tersebut, merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan pendapatan per-kapita tinggi karena di huni oleh sumberdaya manusia mayoritas usia produktif.

Kuncinya ada pada produktifitas sumber daya manusia. Jika gagal maka Indonesia akan berada pada bayang-bayang negara middle income trap.

Melihat Depok saat ini, saya menjadi membayangkan prototype middle income trap tersebut. Artikel yang saya tulis 2014 silam membahas juga soal kapitalisasi pasar baik oleh kapitalisasi local maupun kapitalisasi asing.

Ketimpangan yang terjadi akibat system kapitalisme ini menurut saya ikut andil terjadinya middle income trap. Ketika kekayaan hanya di rasakan oleh segelintir orang (pemilik modal) maka tidak akan pernah meningkatkan pendapatan per-kapita secara nyata disemua segmentasi masyarakat.

Kaitannya dengan Depok adalah soal kapitalisasi ini. Dalam Whatsapp grup saya berkomentar begini “Semakin padat Depok, semakin kumuh, semakin semrawut, maka akan menjadi bom waktu”.

Ini diakibatkan meningkatnya jumlah pendudukan sementara secara pendapatan masyarakat dan produktivitasnya tidak meningkat, maka terjebak dalam penghasilan kelas menengah.

Kelas menengah ini yang mayoritas penduduk asli Depok lambat laun bisa semakin tergusur. Hal ini hampir sama dengan kasus Jakarta yang penduduk asli Jakarta nya tersisihkan kepinggiran Jakarta.

Kemudian saya berkomentar melanjutkan, Semakin padat lingkungan akan semakin tidak sehat; drainase buruk, kumuh, air tanah kualitasnya rendah dan pada akhirnya masyarakat semakin tidak betah hidup di Kota Depok.

Pada kondisi seperti itulah, kesempatan pemilik modal untuk meng-akuisisi lahan. Depok bisa menjadi kota yang mayoritas lahannya dimiliki segelintir orang. Geliat seperti itu sebetulnya indikasinya ada di Jonggol juga.

Saya merasa yakin, potensi Jonggol untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru itu sangat tinggi. Apalagi jika ada katalisatornya dengan pemekaran Daerah Otonomi Baru Kabupaten Bogor Timur.

Belum lagi dengan lokasi yang sangat strategis, yang sekaliber Ciputra pengembang property besar di Indonesia, terus men-ekspansi wilayah Jonggol.

Belum lagi Jonggol bisa beririsan dengan Meikarta yang konon akan menjadi kota masa depan dimana setiap orang ingin tinggal disana.

Bagi saya ini potensi dan pembcaan peluang dan tantangan yang harus di urai. Jika tidak pembangunan di Jonggol hanya akan terjadi secara kecelakaan dan ketidak sengajaan.

Jonggol perlu dikonsep menjadi Green City, dan ini akan menjadi model kota yang baik. Mudah-mudahan. Amien …

Harry Hardiyana, Ketua Jonggol Cendekia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: