Dijadikan Tersangka Kasus e-KTP, KPK Tahan Andi Narogong
Andi Agustinus (Narogong)

Dijadikan Tersangka Kasus e-KTP, KPK Tahan Andi Narogong

Jakarta (RJ) – Komisi Pemberantasan Korupsi resmi menetapkan pihak swasta Andi Agustinus alias Andi Narogong sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun anggaran 2011/2012. yang merugikan negara mencapai Rp 2,3 triliun

KPK resmi menahan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong pada Jumat (24/3/2017) siang, usai menjalankan pemeriksaan. Andi merupakan tersangka ketiga setelah Irman dan Sugiharto, yang keduanya merupakan pejabat di Kemendagri.

“Resmi hari ini tanggal 24 Maret, KPK telah menahan tersangka AA (Andi Agustinus) dalam kasus e-KTP,” kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di Jakarta pada Jumat (24/3/2017).

Proses pemeriksaan terhadap Andi, ujar Basaria masih terus dilakukan oleh penyidik. Dia berharap publik agar bersabar, sebab KPK berharap dari penyidikan itu mereka bisa menemukan perkembangan baru untuk menyeret aktor-aktor lainnya dari mega proyek tersebut.

Menurut lembaga anti rasuah itu, Andi harus diperiksa secara intensif, karena dia mengetahui banyak mengenai proyek dengan anggaran senilai Rp 5,9 triliun itu.

“Kalau mengikuti persidangan kemarin itu, Beliau banyak mengetahui tentang hal ini. Yang paling penting penyidik memiliki pemikiran kalau yang bersangkutan diperlukan pemeriksaan secara intensif,” katanya lagi.

Ketika ditanya di mana Andi akan ditahan, Basaria enggan menjawabnya. KPK sebelumnya sudah melakukan penggeledahan di tiga lokasi di Cibubur.

KPK sudah mengantongi bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan Andi sebagai tersangka. Dia merupakan tersangka yang berasal dari kalangan swasta yang mengetahui sejak awal seluk beluk proyek tersebut.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, penetapan Andi berdasarkan hasil penyidikan atas dua terdakwa mantan pejabat Kemdagri, yaitu Irman dan Sugiharto. Selain itu, penyidik juga mengklaim memiliki dua alat bukti dalam menetapkan Andi sebagai tersangka.

“KPK menemukan bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan seorang lagi sebagai tersangka, yaitu AA dari kalangan swasta,” ujar Alexander di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/3/2017)

Alexander memaparkan, Andi diduga bersama Irman dan Sugiharto telah melakukan tindak pidana memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat pada kerugian perekonomian negara dalam proyek e-KTP.

Lebih lanjut, Alexander menyebut, Andi diduga merupakan pihak yang berperan aktif dalam proses penganggaran dan pengadaan, serta pelaksanaan barang/jasa dalam proyek e-KTP.

“Dalam proses penganggaran, AA bertemu dengan terdakwa, sejumlah anggota DPR, dan pejabat Kemdagri terkait proses penganggaran proyek e-KTP,” ujarnya.

Selain itu, Alexander menyampaikan, Andi juga diduga telah memberikan sejumlah uang korupsi e-KTP kepada sejumlah pihak, seperti anggota DPR di Badan Anggaran dan Komisi UU, serta pejabat Kemdagri.

Dalam kasus tersebut, BPKP menduga ada kerugian negara sebesar Rp2,3 triliun dari total nilai proyek sebesar Rp5,9 triliun.

“Tersangka juga diduga mengkoordinir Tim Fatmawati yang diduga dibentuk untuk memenangkan tender dan aliran dana kepada sejumlah panitia tender,” ujat Alexander.

Atas tindakannya, Andi disangka melanggara pasal 2 ayat (1) UU 30/1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto pasa 64 ayat 1 KUHP.

Alexander menyampaikan, KPK meminta masyarakat untuk mengawal proses penanganan kasus e-KTP. Ia juga mengimbau masyarakat tidak terpengaruh dengan isu negatif dan politisasi yang dilakukan sejumlah pihak dalam penanganan kasus e-KTP.

“Karena upaya menarik dan penggeser penanganan e-KTP pada ranah politik berpotensi mengahambat penuntasan perkara ini. Sebagai penegak hukum, KPK akan fokus pada hukum,” ujarnya.

Ia menambahkan, KPK juga tengah melakukan penggeledahan di tiga lokasi di kawasan Cibubur untuk kepentingan penyidikan. Meski demikian, ia enggan berkomentar soal temuan bukti lantaran penggeledahan masih berlangsung. [A1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: