BNN Tolak Mentah-mentah Usulan Ekspor Ganja seperti Dilontarkan PKS
Gedung Badan Narkotika Nasional di Cawang, Jakrta Timur

BNN Tolak Mentah-mentah Usulan Ekspor Ganja seperti Dilontarkan PKS

Jakarta (RJ) – Badan Narkotika Nasional (BNN) menolak wacana ekspor ganja yang disampaikan salah satu anggota DPR dari Fraksi PKS. Ganja dinilai merupakan komoditas yang bagus untuk diekspor

“Menolak dengan tegas dan keras,” ucap Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono saat dihubungi wartawan, Jumat (31/1/2020.

Bagi Sulistyo, ekspor ganja dengan alasan kepentingan ekonomi tak bisa didapat diterima. Begitu pun dengan alasan kesehatan. Apalagi Undang-Undang juga melarang hal tersebut. Berdasar Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 disebutkan bahwa ganja jelas-jelas masuk narkotika golongan I.

Lalu juga Konvensi Tunggal PBB tentang Narkotika 1961 atau United Nations of Single Convention on Drug 1961 yang juga menyebut bahwa ganja termasuk dalam narkotika.

“Enggak bisa, itu dalil seperti itu belum mendapat legitimasi, kita kan sesuai undang-undang, UUD 1945 dan kita patuh pada konvensi internasional bahwa itu dilarang. Oleh karena itu (ganja) untuk bisnis, ditanam kemudian diperjualbelikan untuk kepentingan umpamanya internasional itu kita melarang baik yang canavia maupun turunan-turunannya,” kata dia menjelaskan.

Sulistyo menambahkan, ganja sebagai komoditas ekspor berpotensi buruk bagi Indonesia. Apabila ganja diperdagangkan bisa saja produk-produk ganja dalam bentuk lain justru masuk ke Indonesia.

“Nanti baliknya lagi (ke Indonesia) dalam produk lebih canggih, lagi lebih murni lagi, nah ini yang dipertaruhkan masa depan bangsa kita,” kata dia lagi.

Sedangkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Heru Winarko mengatakan, hingga kini ganja masih menduduki peringkat pertama sebagai narkoba yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia.

Saat ini tercatat 63 persen dari seluruh pengguna narkoba yang diperkirakan berjumlah hingga 3,6 juta orang di Indonesia, menggunakan ganja.

“Pengguna narkoba paling banyak menggunakan ganja. Itu sebanyak 63 persen,” kata Heru.

Sehingga, pihaknya akan fokus pada pemusnahan ladang ganja di Aceh dan daerah lainnya.

“Jadi sekarang kita fokus di Aceh dan beberapa daerah, dan juga pemusnahan ladang-ladang ganja kita lakukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari juga membenarkan hal tersebut.

Dua jenis narkoba lain yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia setelah ganja, lanjutnya, adalah sabu dan ekstasi.

“Kedua yang populer juga adalah narkotika jenis methampetamin, atau nama pasarnya kita sebut dengan sabu,” ujar Arman Depari.

Lalu, untuk peringkat ketiga, narkoba yang banyak dikonsumsi oleh penyalahguna narkoba di Indonesia adalah pil rekreasional.

“Kemudian jenis pil rekreasional yaitu amphetamin. Nama populernya di pasar kita sebut ekstasi,” lanjutnya.

“Tiga jenis ini masih mendominasi penyalahgunaan narkoba di Indonesia,” jelas dia.

Kalangan anak muda disebut paling banyak tergiur mengonsumsi narkoba.

“Terutama di kalangan anak muda atau kalangan generasi muda kita,” ungkap Arman.

Sebelumnya diberitakan, dalam rapat antara Komisi VI DPR RI bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, terkait perjanjian dagang antara ASEAN dengan Jepang, sebuah ide perihal menjadikan tanaman ganja sebagai komoditas ekspor asal Indonesia tiba-tiba mencuat.

Hal itu diutarakan oleh Anggota Komisi VI DPR dari fraksi PKS, Rafli, karena menurutnya ganja asal Indonesia yang banyak tumbuh di Provinsi Aceh itu sebenarnya memang bisa dijadikan komoditas ekspor.

“Jadi Pak, ganja ini bagaimana kita jadikan komoditas yang diekspor, yang bagus. Jadi kita buat lokasinya. Saya bisa kasih nanti daerahnya di mana. Setuju enggak?” kata Rafli di Gedung DPR RI Senayan, Kamis (30/1/2020). [A1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

%d blogger menyukai ini: